Dari pendar keperakan menuju emas yang berkilauan

Sebuah catatan terakhir dari awal sebuah perjalanan panjang.

Ini bukanlah goresan pena dari sosok yang sedang mengeluh karena ketidak-berdayaannya dalam mengatasi masalahnya sendiri. Ini bukanlah ratapan seseorang yang berjalan tertunduk dengan wajah muram, dan langkahnya terlihat lunglai dengan wajah tanpa asa. Ini juga bukan ungkapan ketidakpuasan seseorang atas kerasnya hidup yang sedang dijalaninya, minimnya pencapaian yang diraihnya. Tidak, cerita itu mungkin adalah bagian dari hidupnya dulu, ketika dia belum memaknai betapa beruntungnya dia, ketika dia terlalu naif dengan definisinya sendiri untuk arti sebuah kesempurnaan.

Waktu telah memolesnya. Waktu telah mengubahnya dari sebongkah batu kasar berpasir yang tidak menarik menjadi sebuah ornamen perak yang berpendar, cukup untuk menarik perhatian orang yang kebetulan melihat sosoknya. Waktu telah menghancurkan egonya, meluluhlantakkan keangkuhannya, dan menguraikan bagian yang dianggapnya sebagai elemen pembentuk dirinya. Waktu telah dengan sabar menyusunnya kembali menjadi sosok yang utuh. Waktu telah membantunya untuk memahami dirinya sendiri, mengenali segala potensinya, dan membimbingnya untuk mengeluarkan pendar sinar yang dulu hanya disimpannya sendiri.

Telah tiba waktunya ketika dia selesai dengan masalahnya sendiri. Butuh waktu yang cukup lama untuk berdamai dengan dirinya sendiri dan menemukan sosok yang mungkin tidak disadarinya ada, tetapi ternyata sedang tertidur lelap dalam relung gelap yang tidak terjamah di dalam dirinya. Bukan caci-maki dan umpatan yang ia hadiahkan kepada Sang Waktu yang membiarkannya berlari-lari tanpa arah dalam pencariannya, melainkan sukacita laksana seorang musafir yang menemukan oase di padang pasir, karena Sang Waktu tetap berputar sampai waktu itu tiba dan masih tetap menemaninya ketika ia mulai memendarkan sinarnya.

Perlahan demi perlahan, pendaran sinar itu semakin menguat. Berkas sinar yang menyeruak dalam malam yang dingin dan kegelapan yang kelam, cukup untuk memberikan rasa nyaman dan harapan kepada jiwa-jiwa yang juga sedang dalam pengembaraan. Sinar yang terpancar begitu lembut, tetapi tegas dalam garis-garisnya. Dia telah menemukan kepercayaan dirinya untuk bersinar, menyapu penjuru yang gelap dan memberikan petunjuk kepada para pencari jalan untuk menemukan arah kembali ke rumah mereka. Lihat! Dia sedang membantu Sang Waktu untuk menemukan batu-batu yang berserakan di hutan yang lebat, tersembunyi dalam goa-goa yang gelap, agar bisa dikumpulkan dan dibentuk menjadi rupa-rupa perak seperti dirinya.

Tetapi, perak bukanlah sebuah tujuan akhir. Adalah Sang Waktu yang kembali akan mengubahnya menjadi emas yang kemilau, sebuah perjalanan yang harus dilaluinya dengan menghabiskan hari-hari dengan cuaca yang tak menentu. Rasa panas karena terbakar lebih menyakitkan daripada bara di pendapa seorang pandai besi. Rasa dingin lebih menusuk daripada siksaan musim dingin di antartika. Debu dan pasir juga tak henti-henti menghampirinya, menyayat-nyayat permukaannya yang licin dan mengkilap. Angin tak mau kalah dengan menggodanya, menawarkannya untuk terbang bersama ke Kefir dan menikmati musim semi yang hangat dan menawan.

Dia memilih untuk setia kepada rencana Sang Waktu yang telah menemaninya dalam pengembaraan. Sang Waktu sudah membimbingnya di masa-masa sulit dan kini saatnya untuk percaya bahwa perjalanan kali ini juga akan ia lewati dengan bimbingan Sang Waktu. Dia bukanlah kertas yang mudah terbakar, atau daun kering yang segera tertiup angin. Dia akan segera menjadi logam mulia, dengan pancarannya yang menyilaukan, cukup untuk membuat sekitarnya terusik dan beranjak untuk menemukan tempat dia berada. Kemilau itu membuatnya tampak begitu berbeda. Sinarnya tak padam meskipun permukaannya digerus. Sinarnya tetap hadir dalam terang mentari siang dan begitu dominan dalam gelapnya malam. Sinar itu adalah bagian dari kehidupan di sekitarnya.

Dia tahu, dia akan menjadi bagian dari sejarah…



1 Comment »

  1.   claudyne Said:

    on January 12, 2009 at 10:45 pm

    Kayaknya Blogmu ini akan jadi blog edisi tahunan ya Mike hehehe…
    habis ng-update-nya cuma pas setahun sekali.

    Btw, tumben pake bahasa indo? ternyata bahasa indomu masi bagus juga hahaha….

    Happy birthday ya :)
    Btw lagi kalo da jadi emas mau dijual berapa nih? katanya harga emas lumayan stabil ga kayak harga uang hahaha…

    sini aku aja jadi makelar emasnya :p

{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI

Leave a Comment