"Lima tahun lalu aku hanya mendengar cerita tentang keramaian itu. Kini aku jadi saksi langsung suatu episode sejarah"
ITB. Apa sih yang ada di pikiran orang-orang begitu mendengar kata ini? Mungkin sebagian besar bakal menguntai cerita tentang kampus teknologi, orang-orang pintar yang arogan, jurnal-jurnal ilmiah, dan kisah-kisah tentang ilmu pengetahuan. Itu juga yang ada di pikiran saya 5 tahun yang lalu, sebelum mendengar bahwa ada sisi lain dari ITB, yaitu seni. Well, saya baru tahu kalau ternyata di ITB ada fakultas seni (FSRD) tepat setelah saya menginjakkan kaki di kampus ini. Seleksi masuk yang di luar jalur biasa (UMPTN kala itu), mungkin salah satu alasan mengapa gaung fakultas seni tidak sampai ke telinga saya.
Anak-anak seni (saya sebut saja SR) punya satu even yang terkenal heboh dan monumental. It’s so called Pasar Seni. Terakhir kali even ini diadakan tahun 2000, atau 6 tahun yang lalu. Menurut salah satu sumber, even ini seharusnya dilaksanakan 4 tahun sekali atau tahun 2004. Akan tetapi, berbagai kesulitan menyebabkan even ini tertunda selama dua tahun. Bisikan kiri kanan mengatakan kalau even ini begitu heboh, tapi ketika itu saya hanya bisa mengangguk-angguk karena belum merasakan langsung.
Bamboo-holic
Seminggu sebelum even, saya sudah melihat kesibukan anak-anak SR merancang ornamen dan aksesoris, serta stand-stand yang akan digunakan. It seemed they were trying to be so close to nature. At least, ini terlihat dari bambu yang jadi pilihan bahan dasar ornamen, aksesoris serta stand. Awalnya saya gak ngeh melihat objek-objek yang dibentuk, kelihatan begitu abstrak. 
Ternyata setelah jadi, hasilnya sungguh keren dan artistik. Misalnya saja, piramida bambu yang diletakkan di dekat TVST, atau prisma segitiga dengan tepian rangkaian lingkaran bambu yang terdapat di sekitar parkiran SR. Yang paling keren menurut saya adalah bamboo gate yang terdapat di sekitar lapangan basket. Dibuat dari potongan bambu, hingga membentuk gerbang oval setinggi lebih kurang 12 m, desainnya sungguh menarik karena struktur bambu yang digunakan paling-paling hanya memiliki panjang maksimum 4 m (Ini hanya perkiraan panjang berdasarkan rasio saja. Maaf, saya sudah lama meninggalkan profesi tukang kayu :p). Sayang, saya tidak sempat mengabadikan gerbang ini (lebih tepatnya sih lupa :D). Pekerjaan tangan ini pasti membutuhkan kesabaran dan energi yang luar biasa. Bayangkan saja, untuk stand sendiri ada sekitar 250 buah, and they’re all hand made. Wonderful!!
The Show is Here
10 September 2006. Acara dimulai pagi, sayangnya saya tidak berada di tempat acara pembukaan yaitu di panggung utama di depan Gerbang Ganesha. Katanya acara pembukaan sempat ditunda karena perwakilan dari walikota ngaret. If it was true, heck? Hari gini ngaret..?? Well, it’s a part of the culture, anyway (jadi teringat diri sendiri, haha..). Ada tiga buah stage atau venue yang dibangun, selain stand-stand yang berbaris berjejer mengelilingi kampus. Stage utama terletak di depan gerbang Ganesha (as been told previously), lalu ada dua stage yang lebih kecil di Campus Center dan TVST. Di masing-masing stage, ada live art performance. Sebagai seorang non panitia (i’m just a plain visitor, yes..), saya kesulitan mendapatkan info tentang acara di masing-masing stage. Pengunjung yang padat dan berdesak-desakan, membuat saya malas berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Alhasil, tidak semua spot saya kunjungi. What a pity!
Kamera 3,2 MP menjadi senjata untuk mencari objek yang menarik (Anybody got me an SLR? :p). Saya mulai berkelana mengelilingi kampus. Target pertama adalah daerah sekitar air mancur.
Yang unik di daerah ini adalah plastik bulat panjang yang digantung di atas boulevard plaza soekarno seolah-olah memberi efek hanging pipes.
Efek serupa juga dapat ditemui di daerah sekitar bamboo gate, hanya saja bentuknya berupa limas. Trying to resemble Babylon Garden? Mungkin saja. Yang jelas untuk membuat plastik-plastik itu dapat tergantung dengan rapi, bukan perkara gampang. Diperlukan kemampuan panjat tebing dan merayap ala spiderman. Dude, see me stick on the wall.. Haha..
Akan tetapi, dekorasi artistik tidak berarti bahwa aktivitas di sekitar ini menjadi menarik. 
Saya hanya menemukan kumpulan stand beserta aktivitas jual beli, sekedar eye shopping, dan gerakan massa yang menyemut.
But wait!Ga semua stand dipadati pengunjung, seperti stand si ibu penjual payung geulis. Ceuk urang mah, si ibu kirang geulis.. :p Oke… Saatnya berpindah.

Eits… apa itu? Saya melihat trailer yang sepintas jamak ditemukan di pelabuhan peti kemas. Tapi di tempat ini? 
Saya pun mendekat dan ternyata trailer itu adalah toilet. Haha, keren juga idenya. Sebagai kenang-kenangan, saya pun mulai mengambil posisi dan mengabadikan si toilet bergerak ini.
Sempat terbersit niat ingin pipis di dalam trailer, tapi tidak jadi karena yang menjaga seorang bapak yang tidak menarik (terus hubungannya apa? ya gitu deh. kan ga bisa kenalan. haha..).
Bring Me the Food
Kriuk.. kriuk.. Si cacing pun bernyanyi. Saatnya mencari makan. Saya pun berkeliling mencari lokasi stand makanan. Setelah tanya sana-sini, ternyata stand makanan ada di sekitar Labtek VIII, gedung kuliah dulu, dan Labtek V. Berangkat..
Suasana sangat ramai. Berbagai jenis makanan disajikan dengan harga yang bervariasi tapi tergolong cukup murah.
Menu lokal seperti baso, nasi kuning, pempek,dsb bersaing dengan menu luar ala junk food seperti hotdog dan burger. Beberapa bule tampak mendominasi stand penjual sop buah coklat dan dengan serius menyimak proses pembuatannya. Ckk.. ckk. ckk.. Sekedar ingin tahu atau memang sudah lapar om dan tante? Kok pada mupeng semua?
Daerah stand makanan ini termasuk yang paling ramai dan paling heterogen. Saya bahkan menemui
kesulitan untuk mencari tempat duduk. No cozy place! Bahkan untuk sekedar menenggak sebotol Teh Botol Sosro (Apapun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro! -iklan,red-). Seluruh round tables yang disediakan panitia terisi penuh. Mau makan sadja kok susah..
Girls Galore
Bandung is beautiful, apalagi wece-wecenya. Menemukan wanita cantik pada even kemarin bukanlah perkara susah. Banyak gadis-gadis muda yang berseliweran. Umumnya mereka berkelompok dalam suatu grup atau berjalan bersama dengan pacar masing-masing. Beberapa artis juga terlihat on the spot, seperti VJ Rianti dan Luna Maya. Saya melihat beberapa teman saya sedang hunting objek yang menarik. Salah seorang teman yang saya temui juga bertanya, "Mana nih hasil jepretannya?" Saya hanya tersenyum simpul lalu mengatakan, "Mau tau ajahhh!"
Music of Your Life
Yang namanya acara seni, belum sah kalau tidak ada pertunjukan musik. Panitia pasar seni sepertinya tahu itu. Acara musik dipusatkan di panggung utama dengan mengundang beberapa band papan atas serta pendatang baru. Diawali dengan penampilan Seurieus, yang merupakan produk asli SR ITB, massa digiring untuk terkonsentrasi di sekitar stage. Candil tampil pol dengan tarikan vibrato khasnya. Sebagai band pembuka, Seurieus terhitung sukses menghangatkan suasana. They rocked!!
Band-band selanjutnya juga tak kalah panas. The Cangcuters tampil edan ala ABG (Audisi Band Gelo). Sementara itu, Kembar Srikandi sukses membawa massa bergoyang. Lagu populer, SMS Bang!, menjadi andalan utama. Massa pun jadi semakin trengginas dan larut dalam goyangan dangdut nanggung ala amatiran. Tarik mang…..
Penampilan The Sigit seolah menjadi antiklimaks. Lagu-lagu yang dibawakan terkesan kaset banget. Terlihat kurangnya improvisasi. Apa karena tidak dibayar untuk tampil di even ini? Entahlah. 
Yang jelas, kekurangan itu dibayar dengan atraksi perkusi Samba Sunda. Grup ini terdiri dari belasan personil dengan dua orang vokalis wanita. Mereka membawakan musik kontemporer serta etnik. Harmonisasi nadanya sungguh asyik. Pukulan drum, petikan gitar, tabuhan kendang, dan perkusi menyatu menghasilkan bunyi-bunyian yang unik. Yang menarik dari grup ini, penabuh kendangnya adalah seorang anak kecil! Sungguh keren.. Sayang, hasil jepretan penampilan grup ini kurang memuaskan. Saya hanya menggunakan kamera HP Nokia dengan resolusi 65K warna. Foto terlihat agak blur dan tidak fokus. Yah, sayang sekali.
The Other Side
Ada kejadian menarik selama even kemarin. Semuanya terangkum dalam foto-foto di bawah. Biarkan foto yang berbicara.

Seorang panitia dengan gaya retro berlagak ala satpam untuk mencegah orang-orang masuk melintasi daerah terlarang.

Asyiknya ngaso sambil makan di bawah tenda biru sambil melepas penat setelah menjaga stand.

A Mild tampak mendominasi Jalan Ganesha. Tanya kenapa??
Event’s Rating
Acara kemarin benar-benar top abis. Tapi bikin rating sendiri boleh dong. Saya membuat beberapa kategori penilaian. Cenderung subjektif, tapi yang namanya rating kan memang subjektif :). Penilaian ini berupa angka dalam skala 1-10.
Persiapan 8/10
Dekorasi 9/10
Keramaian 9/10
Price 7/10
Atraksi 9/10
Pertunjukan musik 8,5/10
Overall 8,5/10
Mike, reporting from Pasar Seni ITB 2006